Indeks Berita

Pemerintah Aceh Akan Bantu Renovasi Asrama Mahasiswa di Yogyakarta

Rabu, 17 Oktober 2018

Humas Aceh | 17 Okt 2018

Yogyakarta – Pemerintah Aceh akan membantu pembiayaan untuk merenovasi asrama mahasiswa Aceh yang ada di Yogyakarta. Pernyataan tersebut disampaikan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, saat meninjau kondisi asrama Meuligoe Iskandar Muda, di Jalan Poncowinantan Yogyakarta, Rabu 17 Oktober 2018.

 

“Karena ini menyangkut martabat Aceh dan sesuai dengan program prioritas pemerintah yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab dan lain-lain,” kata Nova. “Saya juga pernah menjadi mahasiswa, jadi sangat wajar jika Pemerintah Aceh peduli dan konsen terhadap permasalahan mahasiswa.

Nova Iriansyah menambahkan, untuk melaksanakan renovasi asrama, diperlukan status legal asrama tersebut. “Saya meminta kepada pengacara asrama ini juga untuk mempersiapkan apa-apa saja yang perlu saya lakukan. Intinya saya siap melakukan apapun untuk asrama ini,” tegas Nova Iriansyah yang juga turut serta membawa tim hukum pemerintah Aceh.

Seusai  meninjau kondisi asrama, kondisi kamar hingga kamar mandi di asrama, Nova Iriansyah menyimpulkan asrama itu memang harus segera di renovasi, “kondisinya sudah tidak memungkinkan,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Kuasa Hukum Asrama Aceh, Zulfitri Adli mengatakan asrama itu adalah milik masyarakat Aceh dan harus tetap dipertahankan. “Tidak hanya arama ini, asrama-asrama Aceh lain di Jogja letaknya sangat strategis, karena itu asrama-asrama ini harus terus dijaga,” ujarnya

The post Pemerintah Aceh Akan Bantu Renovasi Asrama Mahasiswa di Yogyakarta appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

Pemerintah Aceh Tandatangani Nota Kesepahaman dengan Unsyiah dan ITS

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Surabaya – Pemerintah Aceh bersama Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS)  dan Universitas Syiah Kuala melakukan penandatanganan nota kesepahaman tentang penerapan Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Teknologi E-Government.
Menurut Nova, di dalam kondisi sosio-kultural perubahan cepat tidak bisa diharapkan terjadi dengan kesadaran sendiri saja. Oleh karena itu kita akan terus ketinggalan. Karena itu harus ada sistim yang menggunakan teknologi untuk memaksa kita berubah agar lebih disiplin, produktif, transparan, akuntabel dan berintegritas. Itulah sebabnya teknologi dan science harus masuk, dan itu pula yang mendasari kerjasama dilakukan.
Plt Gubernur Aceh,  Nova Iriansyah menekankan agar MoU yang ditandatangani hari ini harus kongkrit, membumi, nyata, berlanjut dan pasti.
“Saya tidak mau MoU hanya jadi seremoni, ini bukan pencitraan,” kata Nova seperti dilaporkan langsung oleh Jubir Pemerintah Aceh, Wiratmadinata,  Selasa (16/10) langsung dari ITS.
Disampaikannya, kerjasama yang kita lakukan harus nyata berupa penerapan aplikasi teknologi unggul karya ITS yang memang sudah teruji, yaitu e-Government menuju Smart City.
Secara konkrit, Aplikasi e-Government dinilai akan memaksa semua orang disiplin, profesional, dan memiliki standard mutu tinggi.
“Tidak ada tempat bagi kemalasan, tidak mau belajar, tidak disiplin, tidak transparan dan akuntabel. Tampaknya orang harus dipaksa oleh teknologi untuk bisa bergerak maju sebagai satu metode perubahan,” tegas Nova.
Nova mengatakan, Aceh selalu siap belajar darimana saja termasuk di Jawa Timur.  Aceh disebut cukup bersemangat untuk belajar bagaimana layanan publik di Jawa Timur sehingga dapat tampil “Bersih” dan “Melayani” sehingga investor bisa berinvestasi di Aceh hingga ribuan trilliun seperti halnya di Jawa Timur.
Dalam pandangan Nova, dalam aplikasi e-Government yang digunakan untuk mewujudkan “Smart city” berguna mendorong terpenuhinya layanan publik yang tersistem secara teknologi. Didalamnya juga didukung layanan e-Planning, e-Budgetting e-Payment dan e-Office.
Sebelumnya,  Plt Gubernur mengapresiasi kerjasama Unsyiah-ITS yang disebutnya sebagai kerjasama paling sukses antara kedua Institusi selama ini.
“Ini karena terus berlanjut dan meningkat hingga Pemerintah Aceh terlibat pada saat ini,” puji Nova.
Nova mengatakan, dengan semakin membaiknya hubungan antara Pemerintah Aceh dengan kampus, khususnya Unsyiah saat ini akan semakin penting memperkuat penerapan pendekatan pembangunan yg kolaboratif
“Saat ini Pemerintah Aceh juga menganggap kerjasama ITS-Unsyiah-Pemerintah Aceh berjalan sukses dan nyata,” kata Nova.
Dalam pengantarnya, Rektor ITS mengatakan ITS aktif mengembangkan tekonologi dan sciences, mulai dari riset sampai produksi teknologi. Hasilnya bahkan dipasarkan dan menjadi income bagi kampus ITS.
“Ada banyak produk teknologi ITS yg telah dihasilkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama dalam bidang kemaritiman, otomotif, energy alternatif, pemukiman dan lain-lain,” papar Rektor ITS, Profesor Joni Hermana.
Saat ini ITS aktif mengembangkan teknologi Smartcity, yang berbeda dengan ITB. Kalau ITB menjual mode, tapi ITS lebih pada aspek aplikasi yang berbeda sesuai kebutuhan spesifik daerah. Basis teknologi IT untuk Smartcity sudah dimanfaatkan Surabaya, dimana pemerintah bisa melakukan kontrol pemerintahan berbasis IT, dari manapun di dunia, oleh para usernya.
Jubir Pemerintah Aceh, Wiratmadinata dalam laporan pandangan matanya,  langsung dari lokasi acara juga mengabarkan bahwa hasil karya teknologi ITS sudah digunakan oleh berbagai pemerintah kabupaten di Indonesia.
“ITS memiliki total 20 ribu orang mahasiswa, dengan dosen 1.000 orang lebih sedikit,” kata Wiratmadinata mengutip penjelasan Rektor ITS, Selasa (16/10) langsung dari ITS.
Rektor Unsyiah,  Prof., Samsul Rizal, M.Eng., dalam sambutannya menyebutkan bahwa Unsyiah sudah lama kerjasama dengan ITS.
“Sejak tahun 80-an. Dimulai dengan jurusan Teknik Arsitektur. Pak Nova adalah salah satunya,” kata Samsul.
“Ke depan kerjasama yang potensial adalah riset bersama ITS-Unsyiah dalam bidang kebencanaan. Salah satunya “paleo-tsunami”, untuk memahami soal bencana tsunami. Semoga MoU hari ini akan dapat menjadi kerjasama yang memajukan Indonesia,” kata Wira mengutip keterangan Rektor Unsyiah.

The post Pemerintah Aceh Tandatangani Nota Kesepahaman dengan Unsyiah dan ITS appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

[Video] Miftahul Jannah, Menjaga Keyakinan di Arena Judo

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Miftahul Jannah, Menjaga Keyakinan di Arena Judo

The post [Video] Miftahul Jannah, Menjaga Keyakinan di Arena Judo appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

[Video] Plt Gubernur Aceh : BKMT Benteng Mengatasi Persoalan Moral

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Plt Gubernur Aceh : BKMT Benteng Mengatasi Persoalan Moral

The post [Video] Plt Gubernur Aceh : BKMT Benteng Mengatasi Persoalan Moral appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

[Video] Jambore PKK Selesai, Pemenang akan Mewakili Aceh ke Jambore Nasional

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Jambore PKK Selesai, Pemenang akan Mewakili Aceh ke Jambore Nasional

The post [Video] Jambore PKK Selesai, Pemenang akan Mewakili Aceh ke Jambore Nasional appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

[Video] Wakil Ketua TP PKK Buka Kontes Buah se-Aceh Tahun 2018

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Wakil Ketua TP PKK Buka Kontes Buah se-Aceh Tahun 2018

The post [Video] Wakil Ketua TP PKK Buka Kontes Buah se-Aceh Tahun 2018 appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

Plt Gubernur Ajak Masyarakat Aceh di Surabaya Ikut Bantu Aceh

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Surabaya – Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengajak masyarakat Aceh yang ada di Surabaya untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan Aceh.

 

Ajakan itu disampaikan Nova Iriansyah dalam pertemuan makan malam bersama tokoh masyarakat dan mahasiswa Aceh yang ada di Surabaya.

Dalam pertemuan yang berlangsung di restoran LAYAR, kawasan Kertajaya, Surabaya itu 60 orang warga Aceh mendengar penjelasan Plt Gubernur Aceh tentang pembangunan Aceh.

“Bapak Plt Gubernur menyampaikan salah satu upaya memperbaiki Aceh dengan penerpan e-Government dan e-Office agar pemerintahan bisa berjalan secara lebih transparan, akuntabel dan modern,” kata Jubir Pemerintah aceh, Wiratmadinata, Senin (15/10) malam.

Wiratmadinata menyampaikan, penerapan e-Government dan e-Office akan dijalin kerjasama dengan Institut Teknologi Surabaya.

“Tadi, Bapak Plt Gubernur juga menyampaikan alasan memilih ITS. Itu karena lembaga seperti KPK juga berkerjasama dalam bidang yang sama dengan ITS,” kata Wira.

Nova Iriansyah, menurut Wira juga bercerita masa-masa kuliahnya di Surabaya, jurusan arsitektur ITS hingga menjadi dosen dan berhenti lalu memilih terjun ke politik.

“Kini, dengan dukungan pemilih dan izin Allah, kami dipercaya menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, ” cerita Nova.

Dalam kesempatan itu, menurut Wira, Nova Iriansyah mengajak agar warga Aceh di luar Aceh untuk ikut serta menyumbang pemikiran dan bekerja untuk Aceh.

Untuk itu, Nova kembali memaparkan apa yang menjadi visi dan misi Irwandi – Nova berikut 15 Program Unggulan mereka.

“Salah satu yang disampaikan adalah program Aceh SIAT, yang dalam pelaksanaannya ikut menjalin kerjasama dengan ITS guna mewujudkan clean dan good goverment, ” tambah Wira.

Disebutkan, Nova juga menjelaskan pendekatan pembangunan di Aceh yang dibangun secara kolaboratif, yaitu bekerjasama dengan banyak pihak.

“Tanpa bantuan berbagai pihak maka Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” kata Wira mengutip penjelasan Plt Gubernur Aceh. []

The post Plt Gubernur Ajak Masyarakat Aceh di Surabaya Ikut Bantu Aceh appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

Asrama Mahasiswa Aceh di Surabaya Akan Dibantu Bangun oleh Pemerintah Aceh

Selasa, 16 Oktober 2018

Humas Aceh | 16 Okt 2018

Surabaya – Pertemuan Plt Gubernur Aceh dengan Keluarga Tanah Rencong (KTR) dan Pelajar Mahasiswa Kekeluargaan Tanah Rencong (PMKT) Surabaya menghasilkan kesepakatan melanjutkan penyelesaian pembangunan asrama mahasiswa dengan dukungan dari Pemerintah Aceh.

 

Dalam pertemuan yang berlangsung di lokasi Asrama Mahasiswa Aceh, jalan Rumput Harapan Blok D, No. 29, Surabaya itu disepakati untuk menyerahkan asset asrama kepada Pemerintah Aceh.

“Kami sangat rela demi penyelesaian Asrama Mahasiswa Aceh. Dengan penyerahan asset ini maka akan bisa digunakan APBA untuk menyelesaikan pembangunan asrama yang sangat diperlukan oleh mahasiswa Aceh yang ada di Surabaya, ” kata Busra, Ketua KTR, Senin (15/10) via telepon.

Busra (54) yang sudah menetap di Surabaya sejak kuliah (1984) membenarkan adanya permintaan mahasiswa agar ada dukungan Pemerintah Aceh untuk menyelesaikan pembangunan Asrama Aceh di Surabaya.

“Tadi, dalam dialog dengan Bapak Plt Gubernur, hal itu menjadi salah satu yang disampaikan oleh mahasiswa, ” katanya.

Menurut Busra, banyak sekali mahasiswa Aceh di Surabaya yang kost dimana-mana. Dengan adanya asrama diharapkan mahasiswa bisa bersatu.

“Kami yang sudah menetap disini bisa ikut membina dan memantau perkembangannya, khususnya terkait ibadah, ” kata pria asal Lhong, Aceh Besar itu.

Busra menyatakan jumlah mahasiswa Aceh di Surabaya lumayan banyak. Untuk S1 di ITS ada sekitar 200 lebih. Mahasiswa S2 ada sekitar 100 orang. Mahasiswa S2 spesialis di Universitas Airlangga lebih dari 50 orang. Mahasiswa Aceh di UIN Sunan Ampel juga disebut melebihi 50 orang. Begitu juga di Universitas Negeri Surabaya, ada lebih kurang 100 mahasiswa asal Aceh.

Ayah dari dua anak itu juga menyampaikan jumlah keluarga asal Aceh yang ada di Surbaya khususnya dan Jawa Timur umumnya.

“Di Surabaya saja lebih kurang ada 500 keluarga, jika se Jawa Timur bisa lebih dari 3000 keluarga, ” kata Busra yang alumni mahasiswa ITS yang kini berkerja di swasta bidang beton pra cetak dan beton ringan. []

The post Asrama Mahasiswa Aceh di Surabaya Akan Dibantu Bangun oleh Pemerintah Aceh appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

Kepulangan Miftah ke Aceh Disambut bak Pahlawan

Senin, 15 Oktober 2018

Humas Aceh | 15 Okt 2018

Kepulangan Miftahul Jannah ke Aceh disambut meriah. Ia yang pulang dengan keluarga dan rekan kuliahnya Istri Plt Gubernur Aceh dan beberapa pejabat SKPA lain dengan kalungan bunga.

Miftahul Jannah adalah pejudo paralimpik Indonesia. Ia menjadi bagian atlet yang semula akan bertanding di arena Asean Para Games 2018 di Jakarta. Namun ia kemudian batal bertanding setelah didiskualifikasi karena mempertahankan prinsip yaitu enggan melepas jilbab saat akan bertanding.

“Walau pun tidak bertanding, Miftah sudah menang. Pertandingan sebenarnya adalah melawan diri sendiri,” kata Istri Plt Gubernur, Dyah Erti Idawati, Senin 15 Oktober 2018.

Keputusan Miftah mempertahankan hijab, kata Dyah, telah membawa kabar baik bagi Aceh yang menerapkan syariat Islam. Di usia belia, Miftah telah menjadi duta yang menyampaikan keislamannya ke dunia internasional.

“InsyaAllah Miftah akan menerima hadiah yang jauh lebih inggi dari hadiah dunia,” kata Dyah.

Dyah menyebutkan, komite olahraga beladiri harus mengupayakan peraturan yang memperbolehkan atlet Muslim untuk tetap bisa mempertahankan keyakinan mereka dengan tetap bertanding tanpa harus menanggalkan hijab. Syariat Islam, kata Dyah mewajibkan semua muslimah menutup aurat meski dalam kondisi apa pun. Karena itu, keputusan Miftah mempertahankan hijabnya bukan hanya mewakili daerah Aceh semata melainkan seluruh umat Muslim dunia.

“Perjuangkan hingga ke tingkat internasional. Muslim di dunia ini sangat banyak jadi tidak mungkin tidak diakomodir hingga ke tingkat internasional,” kata Dyah meminta Dispora dan KONI mengupayakan melobi untuk mengubah regulasi itu. “Jangan ada lagi Miftah lain yang mengalami hal serupa.”

Dyah meminta Miftah tetap melanjutkan karirnya sebagai atlet judo sembari meneruskan pendidikan hingga sarjana. “Tidak usah rendah diri. Anandalah pemenang di hati kami.”

Berhijab Sejak Belia

Salimin ayah Miftah mengatakan. sehari jelang bertanding, Miftah meminta dirinya berdoa, “besok tanding, tapi kayaknya ngak boleh pakai jilbab.” Ia yang baru tiba dari Aceh membesarkan hati Miftah. Malamnya pun Miftah juga menghubungi Ibudanya, Darwiyah, di Susoh Abdya. Salimin menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Miftah karena yakin ia bisa mengambil keputusan terbaik dan bijak.

“Saya sangat yakin dia tidak akan buka jilbab. Dia punya prinsip, sejak usia TK ia sudah pakai jilbab,” kata Salimin. Terbukti, esoknya Miftah lebih memilih keluar dari dari arena daripada harus bertanding tanpa jilbab.

Jauh sebelum terlibat sebagai atlet paralimpik Indonesia, Miftah sudah terlebih dahulu meminta izin ayahnya untuk berlatih beladiri. Sebelum judo, Miftah muda berlatih Taekwondo. Salimin mendukung sepenuhnya jenis olahraga pilihan Miftah.

“Dia (hidup) di rantau dan harus bisa mempertahankan diri. Jadi ketika ia minta latihan beladiri saya sangat setuju,” kata Salimin. Saat ini, Miftah adalah pemegang Sabuk Hitam Dan 1 Judo.

Sulton Arifsyah dari Koordinator Olahraga Mahasiswa (KOM) Universitas Pasundan, tempat Miftahul Jannah bernaung dalam olahraga beladiri, mengatakan keputusan Miftah atas dasar keyakinan pribadi tanpa paksaan. Bahkan ketika tim pelatih dan official meminta ia membuka hijab sementara, ia menolak. Pihak KOM yang mendampingi Miftah mulai dari Pelatda dan saat akan bertanding di Jakarta hingga kemudian mengantarkannya pulang ke Aceh memang sedih karena Miftah urung bertanding.

“10 tahun di persiapan Pelatda untuk ikut Asean Para Games. Kita sedih dia tak jadi bertanding, tapi kita salut dengan pilihan Miftah,” kata Sulton.

“Sampai ke titik itu kami di KOM bilang ke Miftah: we are the winner,” ujar Sulton.

Melinda Gustina pengurus KOM yang juga ikut datang ke Aceh, mengisahkan, Miftah bergabung di KOM sekira lebih setahun lalu. Saat itu ia bergabung di olahraga catur. Namun belakangan ia mulai beralih ke Judo yang mengantarkannya hingga ke Pelatnas Para Games Judo.

Sebelum berangkat ke Jakarta, kata Melinda, Miftah tak tahu jika nanti ia bakal dilarang bertanding dengan mengenakan jilbab. Hal tersebut membuat ia terus berlatih hingga 10 bulan lamanya di Solo, dengan pendampingan KOM. Baru kemudian, ia diberi tahu pelatih tentang peraturan itu. Namun ia kekeuh tak membuka jilbab, keputusan yang disayangkan oleh sebagian orang.

“Dia telanjur ikut pelatda dan berlatih hingga tangannya remuk” kata Melinda. Meski demikian organisasi KOM dan keluarga besar Universitas Pasundan bangga dengan keputusan Miftah. Pihak rektorat dilaporkan sedang membicarakan perihal pemberian beasiswa pada Miftah.

Darah atlet memang kudung mengalir di diri Miftah. Usai gagal bermain di arena Judo, ia akan mencoba peruntungan di olahraga lain, olahraga yang tak terikat dengan peraturan terkait boleh tidaknya memakai jilbab. Ia akan beralih (kembali) ke meja catur, olahraga yang ia tekuni saat bergabung di KOM. Di November nanti, Miftah akan membawa bendera Unpas di Pra Porda Jawa Barat.

Miftahhul Jannah menghabiskan masa belia di kampung halaman, Susoh Aceh Barat Daya. Menginjak usai remaja ia melanjutkan sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Jantho Aceh Besar. Terdidik mandiri sejak kecil, Miftah meminta izin orang tuanya melanjutkan sekolah ke pulau Jawa. Meski dengan berat hati, Salimin dan Darwiyah mengizinkan Miftah melanjutkan kuliah di Universitas Pasundan Jawa Barat.

Usai kasus pelarangan bermain –karena terbentur peraturan judo internasional–, ragam pujian dan penghargaan diberikan pada Miftah. Mulai dari hadiah berumrah hingga beasiswa berkepanjangan dari Pemerintah Aceh.

“Terima kasih atas apresiasi semua pihak pada perjuangan miftah selama ini,” kata Miftah. []

The post Kepulangan Miftah ke Aceh Disambut bak Pahlawan appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

Pemerintah Aceh Dukung Kesuksesan Pelaksanaan PORA XIII Jantho

Senin, 15 Oktober 2018
Humas Aceh | 15 Okt 2018
Aceh Besar – Pemerintah Aceh mendukung penuh pelaksanaan Pekan Olahraga Aceh atau PORA XIII, yang akan diselenggarakan di Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar, pada 18-25 November mendatang.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, kepada awak media usai meninjau venue atau gelanggang yang akan menjadi pusat lokasi kegiatan PORA XIII, Minggu 14/10/2018 kemarin.
“Pemerintah Aceh tentu sangat mendukung kesuksesan pelaksanaan PORA di Kota Jantho. Kunjungan dan peninjauan ke JSC dan beberapa sarana dan pra sarana pendukung kegiatan PORA XIII hari ini adalah salah satu bentuk dukungan tersebut,” kata Nova.
Beberapa lokasi yang ditinjau oleh Nova adalah Jantho Sport Center (JSC) yang berada tepat di depan Meuligoe Bupati Aceh Besar. JSC juga akan menjadi tempat pembukaan PORA XIII. Di lokasi tersebut, Plt Gubernur menginstruksikan dinas terkait dan rekanan untuk memacu pengerjaan mengingat semakin dekatnya waktu pembukaan PORA XIII.
“Waktu pembukaan semakin dekat, hanya tersisa 32 hari lagi. Untuk itu, maka pengerjaan harus dipacu. Mulai hari ini, segera buat langkah-langkah dan metod yang tepat untuk mempercepat pengerjaan. Bisa dengan menambah jam kerja, menambah tenaga kerja atau menambah peralatan kerja,” Imbau Alumni Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya itu.
Selanjutnya, Plt Gubernur didampingi Bupati Aceh Besar Mawardi Ali beserta sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh menuju ke lokasi pembangunan wisma atlit yang hanya berjarak 150 meter dari JSC.
Di lokasi ini, Plt Gubernur juga mengingatkan kepada rekanan untuk memacu pengerjaan agar wisma atlit selesai tepat waktu. Di lokasi wisma atlit, terlihat para pekerja sedang melakukan pengerjaan wisma atlit serta sarana dan pra sarana pendukung lainnya.
Untuk pengawasan, Plt Gubernur Aceh juga menginstruksikan Asisten II Sekda Aceh Taqwallah, selaku Kepala Unit Kerja Percepatan Pengendalian Kegiatan APBA untuk melakukan pengawasan melekat dan evaluasi setiap 6 jam terkait progres pengerjaa, agar berbagai kendala yang timb bisa segera diatasi da dicari solusinya.
Melihat komitmen dari rekanan serta proses pengerjaan sarana dan prasarana pendukung PORA XIII, Nova optimis 5 hari sebelum acara pembukaan, JSC da seluruh sarana dan prasarana lainnya akan selesai dan dapat digunakan oleh para atlit se-Aceh yang akan berkumpul dan bertanding di Jantho.
“Masa pengabdian kita sangat singkat, mari kita bekerja sebaik mungkin, sehingga kita bisa mempersembahkan dan meninggalkan warisan yang baik bagi generasi mendatang. Mari kita perkuat komitmen dan etos kerja agar cita-cita mensejahterakan masyarakat dapat terealisasi dan tidak sebatas mimpi saja,” pesan Plt Gubernur.
Sementara itu, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali berharap akan timbul semangat kebersamaan dan persaudaran selama kegiatan ini berlangsung, sesuai dengan tema The Spirit of Aceh yang diangkat pada PORA XIII ini.
Selain meninjau lokasi pembangunan sarana dan prasarana PORA XIII, Plt Gubernur dan rombongan juga meninjau lokasi pembangunan kampus Institut Seni Budaya Indonesia dan kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jantho

The post Pemerintah Aceh Dukung Kesuksesan Pelaksanaan PORA XIII Jantho appeared first on BIRO HUMAS DAN PROTOKOL PEMERINTAH ACEH.

Kalender Agenda

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32